• SpringHill Office Tower, 20th Floor, East Pademangan, Central Jakarta, Jakarta

Mon to Fri: 9 AM to 6 PM

industri manufaktur indonesia

7 January 2026

 

Tekanan Global Masih Membayangi Industri Manufaktur Indonesia

Industri manufaktur Indonesia masih berada dalam fase bertahan sepanjang 2025 di tengah tekanan ekonomi global yang belum mereda. Ketidakpastian geopolitik, krisis iklim, serta fluktuasi harga energi dan bahan baku menjadi faktor utama yang memengaruhi kinerja industri nasional.

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menilai bahwa kondisi global tersebut berdampak langsung pada stabilitas produksi dan margin usaha. Banyak pelaku industri memilih strategi konservatif dengan menunda ekspansi dan lebih fokus menjaga keberlanjutan operasional.

Banyak Pelaku Industri Menahan Ekspansi di 2025

Sepanjang 2025, sejumlah subsektor manufaktur—terutama yang bersifat padat modal—menahan rencana investasi baru. Ketidakpastian pasar global dan melemahnya permintaan ekspor membuat risiko ekspansi dinilai masih cukup tinggi.

Industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan alas kaki menjadi salah satu sektor yang paling terdampak. Persaingan produk impor dan melemahnya permintaan internasional mempersempit ruang pertumbuhan subsektor ini.

Sebaliknya, industri yang berorientasi pada pasar domestik relatif memiliki daya tahan lebih baik, meskipun tetap menghadapi tantangan efisiensi dan biaya produksi.

Industri Mesin dan Logam Tetap Menjadi Penopang Manufaktur

Gabungan Pengusaha Mesin dan Alat Berat (GAMMA) menegaskan bahwa industri mesin dan logam masih menjadi tulang punggung manufaktur Indonesia. Hampir seluruh sektor industri—mulai dari makanan dan minuman, plastik, kemasan, hingga logistik—sangat bergantung pada ketersediaan mesin dan peralatan produksi yang andal.

Namun, GAMMA juga menyoroti keterbatasan penguasaan teknologi inti di dalam negeri. Ketergantungan pada impor mesin dan komponen presisi dinilai masih menjadi tantangan struktural yang menghambat daya saing industri manufaktur nasional dalam jangka panjang.

Efisiensi dan Teknologi Jadi Kunci Bertahan

Volatilitas harga energi dan pangan turut mempersempit margin industri manufaktur. Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk fokus pada:

  • Peningkatan efisiensi produksi,
  • Optimalisasi penggunaan mesin,
  • Serta adopsi teknologi manufaktur yang lebih modern.

Transformasi teknologi dinilai bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan agar industri dapat bertahan dan bersiap menghadapi fase pertumbuhan berikutnya.

Peluang Industri Manufaktur Indonesia Menuju 2026

Meski 2025 menjadi tahun konsolidasi, Kadin melihat peluang pertumbuhan industri manufaktur mulai terbuka menuju 2026. Beberapa sektor yang dinilai memiliki prospek positif antara lain:

  • Food processing dan packaging,
  • Rnergi terbarukan dan sistem kelistrikan,
  • Hilirisasi industri berbasis sumber daya alam,
  • Otomasi industri dan smart manufacturing,
  • Serta logistik dan material handling.

Sektor-sektor tersebut dinilai akan mendorong kebutuhan mesin, teknologi produksi, dan solusi industri yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Dorongan Kebijakan Industri Jangka Panjang

GAMMA mendorong pemerintah untuk menyiapkan kebijakan industrialisasi jangka panjang hingga 20–30 tahun ke depan. Kebijakan ini diharapkan mampu memperkuat industri mesin dalam negeri, meningkatkan penguasaan teknologi, serta mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Kolaborasi antara pelaku industri, asosiasi, dan pemerintah menjadi faktor krusial agar industri manufaktur Indonesia dapat keluar dari fase bertahan menuju fase pertumbuhan yang lebih kompetitif dan berkelanjutan.

Source : Kliksumut.com
“Industri Manufaktur Bertahan di 2025, Kadin dan GAMMA Ungkap Peluang dan Tantangan Menuju 2026”
(pernyataan Kadin Indonesia dan GAMMA terkait kondisi industri manufaktur nasional)